Tuesday, July 5, 2011
ALLAHU AKBAR!
Thursday, May 26, 2011
kembali..
Sunday, May 15, 2011
nafas panjang
Wednesday, May 11, 2011
buat hati yang terluka..
Tuesday, May 3, 2011
memang seperti itulah dakwah.
Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Memang seperti itulah dakwah.
Monday, May 2, 2011
jejak.
Wednesday, April 27, 2011
syeikh ahmad yasin kami..

Adik, ingat tak saat itu..
Saat kita di rumah dakwah kita..
Saat kau menggetar hati dan perasaan kami..
Bercerita ttg kerinduan kita akan dia, Muhammad Rasulullah..
Betapa kita lakukan semua ini atas kecintaan padanya..
Adik,
Akak rindu tatkala kita halaqah cinta
Akak rindu tawa riangmu..
Pernah ku khabarkan padamu betapa tawamu menggelikan hati..
Pernah ku khabarkan bahawa kasih dan sayangmu sgt dekat di hatiku..
Adik..
Sabar ya dik..
Akak tahu sakit,,,
Tapi..
Ia sakit yang membasuh khilafmu dik..
Andai mampu ku pindahkan rasa sakit itu..
Ku buang jauh2..
Agar ia tak dekat lagi denganmu..
Agar ia tidak bermain disekitarmu..
Agar ia tidak mengganggumu
Adik,
Tatkala air mata ini bergenang..
Ku tahu kau kuat..
Ku tahu kau mampu..
Namun, hati ini menangis..
Kerna hati ini x mampu membendung rasa kasihan padamu..
Hati ini rasa tak mampu, jika dibebani ujian yang sama..
Dik,
Maafkan akak,,
Andai x bersamamu
Dalam langkah yang payah ini…
Namun ketahuilah
Walau ku jauh,,
Doa dan harapan mengiringi tiap langkahmu..
Dik,
Kaulah syeikh ahmad yasin kami..
Yang berdiri tegar walau jasadnya lumpuh
Yang menggoncang saff musuh walau dia masih di kerusi rodanya..
Lantas..
Dia pulang padaNya..
Dengan bukti kesyahidannya..
Terus berlari dik..
Terus berjuang..
Hingga tubuhmu hancur luluh
Agar dapat kau buktikan padaNya
Akan kecintaanmu padaNya…
Dik,
Jangan pernah putus harap..
Jangan sekali berburuk sangka padaNya..
Dia kan menuntun langkahmu..
Dia kan menguat gerak dayamu..
Dia kan bersamamu walau andai dunia membuangmu..
Dik,
Perjalananmu masih jauh..
Dihadapanmu ..
Terhampar jalan yang sangat sukar dan payah..
Ku risau..
Andai antara kita berdua…
Ada yang tidak sampai ke hujungnya..
Tangisan semata takkan mampu membawa kita ke hujung jalan…
Teruslah berlari dik..
Berlarilah dengan jiwa ragamu..
Korbankan semuanya..
dan berilah jasad dan hatimu padaNya..
Dengan redhaNya..
Berlarilah..